Bencana Wasior & Misi Penyelamatan Cile


Warga Cile dan Presiden Sebastian Pinera boleh berbangga. Ihwalnya, keberhasilan misi penyelamatan terhadap 33 penambang yang terperangkap di perut bumi selama dua bulan.

Ucapan selamat pun mengalir deras dari berbagai pelosok dunia. Para pemimpin dunia mengirim pesan yang memuji dan menyebut para penambang dan tim penyelamat sebagai inspirasi.

Sementara rakyat Cile menangis gembira merayakan keberhasilan operasi peyelamatan yang luar biasa terhadap penambang dari kedalaman 700 meter di bawah tanah.

Sebanyak 33 balon bermotif bendera Cile dilepas ke angkasa menandai rampungnya evakuasi penambang terakhir yakni, Luis Urzua. Urzua bagaikan kapten yang bersedia menjadi orang terakhir yang meninggalkan kapal.

Pemimpin negara adidaya Amerika Serikat pun menyampaikan ucapan selamat. Presiden Barack Obama menyebut penyelamatan para pekerja tambang merupakan penghormatan atas kesatuan dan tekad warga Cile.

bahkan novelis dan penyair Cile, Arturo Fontaine melukiskan misi penyelamatan ini sebagai buah cinta yang antara lain ditunjukkan Presiden Pinera, meski sempat pesimis upaya penyelamatan dapat berhasil. "In Chile, love moves the sun and stars," tulis Arturo Fontaine dalam artikelnya yang dirilis CNN.

Bagaimana dengan tanggap darurat yang dilakukan pemerintah Indonesia terhadap korban bencana banjir bandang di Wasior, Papua? Ya, bisa dikatakan kontras dengan apa yang terjadi di Cile.

Para petinggi negeri ini justru berdebat dan saling tuding soal penyebab musibah Wasior yang telah menewaskan sedikitnya 150 orang dan 123 lainnya hilang.

Padahal, kondisi korban banjir sangat mengenaskan. Mereka sangat membutuhkan bantuan secepatnya. Seperti dikemukakan Tetua Adat Wasior, Nelesimbury saat berbincang dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kemarin. Kondisi warga pascabanjir bandang mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup. "Saya mohon agar bapak Presiden membantu memulihkan keadaan kami di sini secepatnya," pinta Nelesimbury.

Presiden SBY menyebut banjir bandang di Wasior akibat curah hujan yang tinggi, bukan pembalakan liar seperti yang dituding banyak pihak. Jika akibat pembalakan liar, SBY menyebut korban di Wasior pasti akan banyak.

Pernyataan ini bertolak belakang dengan Ketua Komnas HAM Ifdal Kasim yang mengaku punya bukti jika banjir bandang disebabkan proses deforesfikasi, akibat pembalakan liar yang terjadi di Wasior. Pemerintah dinilai tidak melihat penyebab bencana secara komprehensif.

Sebab itu, Ifdhal memandang musibah Wasir seyogianya dijadikan momentum bagi pemerintah untuk memperbaiki hubungan yang kurang harmonis dengan masyarakat Papua. Sayangnya, pemerintah justru lamban merespons bencana tersebut, sehingga para korban merasa terdiskriminasi.

"Banjir Wasior sebenarnya bisa dijadikan momentum untuk rekonsiliasi dengan masyarakat papua, pemerintah bisa belajar dari kasus Aceh yang telah bertahun-tahun tidak bisa diselesaikan, tapi akibat bencana, Aceh bisa damai," terang Ifdhal.

Bencana yang terjadi di Indonesia bukan hanya di Wasior, namun di daerah lainnya pun butuh penanganan serius. Pasalnya, wilayah Indonesia berada di titik rawan bencana seperti banjir, gempa bumi, atau gunung meletus.

Korban jiwa akan terus bertambah jika pendekatannya masih seperti saat ini. Tidak punya konsep pemetaan rawan bencana yang tepat dan respons yang lambat. Mungkin, pemerintah dan pihak terkait lainnya dapat belajar dan mengambil hikmah dari operasi penyelamatan penambang di Cile yang awalnya mustahil bisa dilakukan.

Dengan rasa cinta, semangat kebersamaan, dan keseriusan pihak otoritas, 33 penambang yang "terkubur" dalam perut bumi di kedalaman 700 meter berhasil dievakuasi melaui kapsul khusus setelah melakukan pengeboran selama 17 hari. Inilah misi penyelamatan manusia yang patut diancungi jempol!

Comments