Indonesia dalam Bayangan Hantu Teroris Baru


AMERIKA Serikat (AS) boleh bersuka-cita atas keberhasilannya menewaskan tokoh utama Al Qaeda, Osama bin Laden, dalam operasi intelijen di wilayah Pakistan. Kematian Osama yang dicap AS sebagai inspirator teroris internasional, justru bagi dunia dan Indonesia dihadapkan pada ancaman teroris baru.

Di mata AS, Osama adalah musuh besar karena menewaskan ribuan orang dalam tragedi serangan 11 Maret 2001 yang meruntuhkan gedung WTC. Namun bagi sebagian negara Islam dunia, termasuk Indonesia, Osama dianggap bukan musuh tapi mujahid, yang memperjuangkan ketidakadilan pemerintah AS dan kroninya terhadap negara-negara berkembang dan dunia Islam.

Sebab itu fakta tewasnya Osama yang diklaim AS, tidak akan menyurutkan gelombang perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan, kesewenang-wenangan, campur tangan negara adidaya itu terhadap bangsa lain, terutama negara berpenduduk mayoritas Islam. Kematian Osama bisa jadi membangkitlan sel-sel gerakan Al Qaeda dan pengikutnya yang menyebar di berbagai negara untuk melakukan aksi pembalasan.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama pun langsung mengeluarkan peringatan, terkait risiko serangan balik dari Al Qaeda terhadap warga AS di luar negeri. "Tidak ada keraguan bahwa Al Qaeda akan terus melakukan serangan terhadap kita. Kita harus dan akan tetap waspada di dalam dan di luar negeri," kata Obama dalam pernyataan televisi, Minggu larut malam yang mengumumkan bahwa pasukan AS telah membunuh gembong Al Qaeda Osama bin Laden.

Di Indonesia banyak kelompok Islam radikal yang berafiliasi dengan Al Qaeda. Bahkan, polisi melansir dari hasil pengungkapan latihan militer di Aceh menemukan adanya gabungan kelompok-kelompok dari Kompak, Jamaah Islamiah, Negara Islam Indonesia, dan Jama'ah Ansharut Tauhid (JAT) yang membentuk Tanzim Al Qaeda Asia Tenggara, dengan Abu Bakar Ba'asyir sebagai pimpinannya.

Keberadaan Ba'asyir dalam Tanzim Al Qaeda Asia Tenggara itu sebagai perwakilan dari JAT, meski sejauh ini Polri belum menyatakan secara resmi keterlibatan JAT secara organisasi dalam jaringan Al Qaeda. Saat ini Ba'asyir tengah menjalani persidangan karena diduga terlibat dalam pendanaan pelatihan militer di Aceh.

Pengamat terorisme dari UI Andi Wijayanto mengatakan, kabar tewasnya Osama bin Laden dinilai sebagai bentuk provokasi kepada umat muslim dunia, terlebih pemberitaan soal kematian Osama masih simpang siur dan jasadnya yang dibuang ke laut, sebagai bentuk penghinaan.

Tdak hanya itu saja, jika memang Osama tewas, menurut Andi, berarti ada kekosongan kepemimpinan. Dengan demikian, jaringan pimpinan Osama ini akan memberikan aksi balasan guna memberitahukan kepada dunia bahwa jaringannya masih ada.

Sebab itu, kematian Osama diprediksikan tidak akan menyurutkan gerakan radikalisme di Indonesia. Menurut Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya, Prof Nur Syam, radikalisme itu merupakan gerakan yang bekerja dengan sistem sel. Ini artinya kalau sel atasnya hilang, maka sel berikutnya yang akan menggantikan.

"Meski Osama bin Laden yang dianggap sebagai godfather-nya gerakan radikalisme di dunia tewas, namun posisinya akan segera ada yang menggantikan," katanya. Nur Syam memandang, untuk memerangi radikalisme itu, harus ada perang total. Perang itu tak hanya dilakukan pemerintah, namun juga oleh masyarakat. "Perang total itu sangat dibutuhkan karena gerakan radikalisme Islam di Indonesia sudah berkembang sangat pesat," ungkapnya. Hal itu terlihat dari muncul beragam organisasi Islam radikal.

Hal senada diutarakan cendekiawan muslim dan mantan Ketua PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif. "Belum berkurang itu, karena ini kan orang nekat semua. Ini mahzabnya nekat. Apalagi dihubungkan dengan tidak adanya keadilan, korupsi merajala. Hukum juga tak berdaya, nah ini titik lemahnya, mereka masuki," paparnya.

Menurut Buya Maarif, kelompok teroris seperti hidup tak ada harganya namun mereka memiliki doktrin sendiri yang kuat. "Mereka itu rela mati dan jihad, karena mati akan ada bidadari menungu dia atas sana. Jadi kasihan ini sebenarnya," ujar pendiri Maarif Institute for Culture and Humanity ini.

Namun demikian, kematian Osama tentu menjadi pukulan berat bagi jaringannya termasuk di Indonesia. "Oh jelas itu, mental orang bisa jatuh dari kelompok ini, tapi mereka punya kader yang banyak. Selama dunia penuh ketidakadilan, AS juga melakukan politik imperialisme, terorisme tetap hidup," terang Buya Maarif.

Sebetulnya, kata teroris adalah kelompok sakit hati yang terpinggirkan dan termakan ideologi dari orang lain, sehingga berani mati. Di sisi lain, pemerintahan rapuh dan tidak tegas dalam menyikapinya. "Jangan salahkan mereka, salahkan negara ini. Karena negara ini dipimpin seorang jenderal, tapi tak efektif sama sekali," tandasnya.

Dari uraian singkat di atas, terorisme memang tidak mudah dibumi hanguskan. Sebab, akar persoalan dari munculnya gerakan radikal ini tak lain adalah ketidakadilan dari negara kuat terhadap negara-negara berkembang dan dunia Islam.

Dari pengalaman sejumlah kasus teror, peledakan bom, dan tewasnya gembong-gembong teroris seperi Dr Azhari, Noordin M Top, dan lainnya dalam penyergapan Densus 88, membuktikan jika Indonesia adalah "medan jihad" bagi perjuangan melawan ketidakadilan. Jadi perang total terhadap terorisme adalah mutlak. Tapi, tidak sebatas menangkap atau menembaki para tersangka terorisnya.

Comments